Share
Senin, 25 Mei 2015 Sign In
Kisah Telik Sandi Pasukan Harimau Kuranji
Mawardi (Foto; Rus Akbar)
NasionalSenin, 12 Juli 2010 - 15:12 wib

Kisah Telik Sandi Pasukan Harimau Kuranji

Rus Akbar - Okezone

PADANG - Sekitar 50 orang pasukan Indonesia dari Kompi Harimau Kuranji, Kecamatan Kuranji yang dipimpin oleh Letda Ahmad Husein berjalan menuju ke Rimbo Kaluang.

Dari 50 tentara tersebut hanya 15 orang pasukan yang membawa senjata api di antaranya sten, peluncur roket, dan selebihnya granat. Senjata tersebut hasil rampasan dari gudang senjata Jepang dan tentara Sekutu di beberapa tempat.

Dari pukul 16.00 WIB, saat itu hanya berjalan kaki ada yang mengenakan sepatu bahkan ada yang telanjang kaki, jalan setapak yang dipenuhi kerikil dan lumpur. Di setiap jalan yang dilalui banyak pemuda ikut bergabung dengan pasukan Kuranji sehingga jumlahnya mencapai ratusan.

“Itu saat penyerangan markas pasukan Inggris dan pasukan Gurka India di Rimbo Kaluang yang saat ini menjadi kawasan GOR Agus Salim Padang,” kata Sertu Purn Mawardi pada

berubah menjadi TNI pada 1947. "Saat itu juga saya menjadi sekretaris nagari (sekretaris desa) dan merangkap menjadi teliksandi untuk pasukan Indonesia,” ungkapnya.

Ia sering meminta informasi dari orang Indonesia yang bekerja di pemerintahan Belanda. Informasi yang ia minta itu berupa kapan jadwal patroli atau operasi pasukan Belanda. “Saat itu Wali Kota Padang itu Pak Bagindo Aziz Chan. Dari beliau kami mendapat informasi gerakan pasukan sekutu dan NICA (Netherland Indies Civil Administration), kemudian saya sampai ke komandan saya. Penugasan ini saya berpura-pura mengurus surat saja atau jalan-jalan ke tempat teman-teman,” ujarnya.

Saat itu, lokasi pemerintahan Belanda terletak di rumah sakit tentara yang berada di Ganting Padang. “Kita juga harus melihat kondisi yang menyusup. Selain dari Pak Wali Kota, kita juga mendapatkan informasi dari orang Indonesia yang bekerja pada pemerintah Belanda tapi berpihak pada Indonesia,” ungkapnya.

Mawardi pernah diperiksa oleh pemerintah Belanda, karena saat itu menjabat sebagai pegawai sipil di pemeritahan Belanda, yaitu sekretaris wali nagari. Tapi ia bersyukur

(PRRI) 15 Februari 1958 yang langsung dipimpin oleh Letkol Ahmad Husein yang juga komandan Mawardi bergabung menjadi pasukannya dan lawannya adalah TNI dari Jawa.

“Kisah pahit yang saya alami saat itu adalah saya dituduh membunuh orang PKI, padahal saat itu saya tidak membunuhnya. Mereka yang memeriksa saya adalah Hattah Sujono. Dia penyidik, meski saya tidak melakukannya saya tetap dipaksa, akhirnya mereka menghukum saya selama 22 bulan,” tuturnya.

Penjara yang dipakai itu adalah sel TNI saat ini di Ganting atau yang berada di asrama TNI Parak Gadang Padang. “Istri saya Marawa menjenguk sekali sebulan ke sel tersebut, ia harus menjual kayu bakar untuk biaya saya dan beli makan saya selama di sel. Setelah saya keluar orang yang menuduh saya tersebut ternyata masuk sel karena terlibat mendukung PKI,” katanya.

Mawardi Rajo Mudo, ini sudah mengalami empat kali pernikahan selama masih muda, namun diakhiri perceraian. Istri terakhirnya adalah Marawa, ia menikah tahun 1949 dan

beras serta peralatan dapur. Kini rumah yang dibangun dari bantuan tersebut sudah mulai rusak, tonggakya sudah dihinggapi rayap, seng atapnya sudah mulai bocor sementara dindingnya juga sudah banyak yang retak. Begitu juga lantainya sudah banyak yang bolong-bolong.

Untuk menopang hidup Mawardi bekerja sebagai penjaga dan pembersih Taman Makam Pahlawan Harimau Kuranji yang nota bene tempat kawan-kawan seperjuangannya ikuburkan. Satu bulan Pemerintah Kota Padang memberikan honornya sebanyak Rp350 ribu. Itu juga tidak rutin kadang sekali tiga bulan kadang dua kali sebulan. “Namanya honor nak,” katanya pada okezone.

Pada tahun 2008, bisa menghela napas karena diberi uang pada pejuang veteran sebanyak Rp6 juta. “Harga mahal apalagi negeri ini sering kena bencana uang itu habis untuk perbaikan rumah saja,” katanya.   

Meski kulit sudah keriput namun dari raut wajahnya semangat perjuangannya masih tergurat. Satu per satu memorinya diingatnya dengan jelas. “Saat ini generasi muda kita sudah mulai pudar sikap nasionalisnya. Saatnya kita bersama-sama dalam membangun negara ini tanpa korupsi. Saya juga tidak mengharapkan gaji dari pemerintah. Yang jelas kami sudah berjuang," pungkasnya.

(ram)
BERITA REKOMENDASI nasib veteran
Show More
KIRIM KOMENTAR
Login untuk komentar
    BERITA LAINNYA
    BACK TO TOP
    Available On
    Image effectivemeasure