Jum'at, 28 November 2014 Sign In | Sign Up
Eat Pray Love, Travelling Movie yang Monoton
Julia Robert dalam film Eat, Pray, dan Love (foto: IMDB)
Review FilmSenin, 1 November 2010 - 15:05 wib

Eat Pray Love, Travelling Movie yang Monoton

John Tirayoh - Okezone
KEHAMPAAN hidup bisa saja terjadi kepada semua orang. Hal tersebut juga merasuki Liz Gilbert (Julia Robert), seorang penulis. Sebagai seorang penulis, Liz dapat dikatakan hidup berkecukupan. Ia juga mempunyai suami yang sangat mencintainya.

Namun Liz merasa ada yang kosong dalam diri dan hatinya. Jatuh dalam pelukan laki-laki lain juga tidak mampu mengisi kekosongan hatinya. Langkah berani akhirnya diambil oleh Liz dengan merencanakan pergi ke Italia dengan menikmati makanan-makanan Italia yang terkenal, menuju India untuk memenuhi keinginan spiritual, dan pergi ke Pulau Dewata untuk merasakan kehangatan cinta.

Itulah garis besar dari film Eat Pray Love yang dibintangi Julia Robert setelah beberapa tahun terakhir ini tidak membintangi film Hollywood. Eat Pray Love sendiri diadaptasi dari Novel berjudul yang sama yang merupakan kisah nyata dari penulis Elizabeth Gilbert. Novelnya sendiri masuk dalam New York Times Best Seller selama 110 minggu.

Film Eat Pray Love dapat dikategorikan sebagai Travelling Movie dengan balutan drama cinta ala Hollywood. Film yang berdurasi 133 menit ini dimulai dengan setting tempat Kota New York dan berakhir di Bali, Indonesia. Penonton disuguhkan pemandangan ala kota Roma yang nyaman dan penuh dengan torehan sejarah serta pemandangan khas kota di India. Pada akhirnya adalah penggambaran Bali yang terkenal akan keindahan alamnya tanpa campur tangan tehknologi.

Sayangnya Eat Pray Love yang dibesut oleh sutradara Ryan Murphy tidak mampu memberikan penonton sesuatu yang luar biasa dalam sebuah film bergenre traveling movie. Alur yang lamban tanpa ada konflik-konflik yang begitu menarik membuat film ini menjadi film drama standar.

Beruntung sang Sutradara mempunyai Julia Robert yang mumpuni dalam menjalankan perannya sebagai Liz Gilbert. Begitu juga Javier Bardem yang berperan sebagai Felipe tampil maksimal untuk beradu akting dengan Julia Robert.

Tidak ketinggalan adalah bintang debutan Hadi Subiyanto yang memerankan salah satu tokoh sentral Ketut Liyer. Hadi Subiyanto mampu menjalankan peran Ketut Liyer dengan natural, walaupun harus beradu akting dengan peraih Oscar Julia Robert. Sementara Christine Hakim sayangnya tidak mendapatkan peran yang signifikan dalam melakoni peran Wayan Nuriyasih.

Secara keseluruhan tidak ada sesuatu yang spesial dalam Eat Pray Love garapan Ryan Murphy ini. Kegagalan terbesar adalah pada skenario cerita yang tampil monoton dan penyutradaraan Ryan Murphy yang tidak mampu memberikan “klik” menarik sebagai sebuah traveling movie dan kisah drama romance seperti dalam novelnya.

Ryan Murphy gagal total memanfaatkan lokasi syuting baik di Italia, India, maupun di Bali. Menjadi wajar apabila film ini nantinya akan membuat penonton yang menonton akan terkesan bosan melihat adegan demi adegan yang harusnya menjadi poin penting seperti dalam novelnya.

Satu hal yang membanggakan buat kita sebagai masyarakat Indonesia adalah, Bali yang menjadi tempat andalan pariwisata bagi pelancong seluruh dunia mendapatkan porsi lumayan banyak dalam film. Selain itu kita juga bangga melihat para aktor dan aktris asal Indonesia seperti Hadi Subiyanto dan Christine Hakim beradu akting dengan tokoh papan atas Hollywood. Selamat Menyaksikan (uky)
KIRIM KOMENTAR
Login untuk komentar
    BERITA TERKAIT
    FOTO LAINNYA
    VIDEO LAINNYA
    BACK TO TOP
    Available On
    x
    Kenali New Mobile Okezone