okezone
Home » Travel » Indonesiaku
Open House Istana Bogor
Senin, 13 Juni 2011 - 12:43 wib
Pasha Ernowo - Okezone
detail (foto: kepustakaan-presiden.pnri.go.id) enlarge this image

ISTANA Bogor dibuka untuk umum bertepatan dengan ulang tahun Kota Bogor ke-529. Bagi Anda yang tidak mendapat kesempatan untuk mengikuti open house ini, kami menyajikan ‘Istana Bogor’ untuk Anda.

Istana Bogor saat ini dikenal masyarakat luas sebagai tempat kerja sekaligus istirahat Presiden atau keluarganya. Ternyata lokasi seluas 28,8 hektar ini  merupakan tempat beristirahat Gubernur Belanda pada abad ke-17.

Kota Bogor pertama kali ditemukan Gubernur Jendral G W Baron Van Imhoff saat mengadakan inspeksi ke daerah Cianjur, Jawa Barat pada 10 Agustus 1744. Van Imhoff menganggap daerah temuannya itu sangat cocok untuk dijadikan tempat peristirahatan. Maklum ketika itu, Batavia (Jakarta pada masa pendudukan Belanda) sebagai pusat pemerintahan mulai dirasakan panas kendati penduduknya belum sepadat saat ini.

Pada 1745, Van Imhoff memerintahkan untuk membangun sebuah gedung yang sekarang ini dikenal sebagai Istana Bogor. Ketika dibangun, hanya berupa pesanggrahan yang modelnya meniru gedung Blenhiem Palace, tempat kediaman Duke of Malborough (nenek moyang Diana, Putri Wales) yang terletak di dekat oxford, Inggris. Pesanggrahan itu diberi nama Buitenzorg yang berarti bebas masalah atau kesulitan. Nama tersebut mencakup perkampungan di sekitarnya.

Sejak berdiri sampai sekarang, bangunan Buitenzorg mengalami beberapa kali pemugaran akibat perang, bencana dan penyesuaian terhadap perkembangan jaman. Pada 1750-1754 pesanggrahan ini mengalami kerusakan berat akibat serangan pasukan yang dipimpin Kiai Tapa dan Ratu Bagus Buang.

Lalu oleh Gubernur Jenderal Jacob Mossel diperbaiki kembali dengan tetap mempertahankan bentuknya semula, sebab anggota Dewan Hindia menasehatkan agar bentuknya tidak boleh diubah mengingat bangunan Buitenzorg adalah replika dari Istana Blenhiem.

Pada masa Gubernur Jenderal Willem Daendels yang berjuluk Tuan Besar Guntur (1808-1811) memimpin, dia menambah gedung di sebelah kiri dan kanan gedung induk, sedangkan gedung induk dijadikan dua tingkat. Untuk mengisi kekosongan halaman bangunan yang luas, dipelihara enam pasang rusa yang didatangkan dari perbatasan India dan Nepal. Rusa-rusa itu terus bertambah banyak, jumlahnya kini ratusan ekor.

Ketika Inggris berkuasa, Wakil Gubernur Jenderal Thomas Stamford Rafless memugar bangunan ini, terutama bangunan besar di tengah yang oleh Daendels digunakan sebagai gudang penyimpanan bahan bangunan. Rafless juga menata ulang kebun halaman di sekitarnya menjadi taman model Inggris.

Saat Belanda berkuasa kembali, Istana Buitenzorg mengalami renovasi besar-besaran. Misalnya pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Baron van der Capellen (1817-1826) membangun menara di tengah-tengah gedung induk. Halaman yang mengelilingi bangunan istana dijadikan sebagai kebun percobaan untuk penyelidikan tanaman tropis dari dalam dan luar negeri.

Lalu pada tanggal 18 Mei 1917 kebun percobaan tersebut diresmikan menjadi Kebun Raya, yang sekarang dikenal sebagai Kebun Raya Bogor. Pendirinya Prof. C.G.C Reinwardt yang ketika itu menjabat Direktur Urusan Pertanian, Kerajinan dan Ilmu Pengetahuan di Hindia Belanda. Gempa bumi, 10 Oktober 1834 menghancurkan sebagian besar kebun dan bangunan tersebut.

Tahun 1850 Gubernur Jenderal Duy Mayer van Twist merubuhkan bangunan lama dan membuat bangunan baru satu tingkat dengan gaya bangunan Eropa abad 19. Selain itu ditambah dua jembatan penghubung antara gedung induk dan gedung sayap kanan serta sayap kiri, namun akhirnya berubah fungsi menjadi koridor. Pemugaran bangunan ini baru sempurna pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Pahud de Montanger (1856-1861).

Pada 1870, Istana Buitenzorg ditetapkan sebagai kediaman resmi para Gubernur Jenderal Belanda. Gubernur Jenderal Tjarda van StarkenborghStachower merupakan orang terakhir yang menempatinya sampai tahun 1942, bertepatan dengan pendudukan Jepang atas Indonesia.

Sejak itu, istana ini diserahkan kepada Jenderal Imamura. Selama dikuasai Jepang, istana ini jarang digunakan sebagai tempat pesta atau upacara, bahkan harta peninggalan para Gubernur Jenderal Belanda berupa cenderamata dari beberapa raja Jawa, diantaranya keris emas bertabur intan habis disita tentara Jepang.

Usai Perang Dunia II, Jepang takluk dengan sekutu. Pada saat itulah sekitar 200 pemuda Indonesia yang tergabung dalam Barisan Keamanan Rakyat (BKR) menduduki Istana Buitenzorg dan berhasil mengibarkan bendera merah putih. Tapi tidak berlangsung lama, mereka kemudian diserbu tentara Gurkha hingga terpaksa hengkang. Baru pada tanggal 31 Desember 1949 istana diserahkan Belanda kepada pemerintah RI dalam keadaan kosong, hanya tinggal enam buah cermin besar dan dua patung dada yang terletak di serambi belakang gedung induk.

Istana Bogor Kini

Berada di kaki Gunung Salak, tepatnya di tengah Kota Bogor, Jawa Barat. Komplek istana ini terletak di atas tanah seluas 28,8 hektar. Halaman istana ditumbuhi aneka pohon besar merindangi rerumputan hijau yang membentang luas. Di halamannya hidup bebas ratusan ekor rusa yang jumlahnya kian membengkak dari waktu ke waktu.

Apabila ingin memasuki Istana Bogor, anda berkumpul terlebih dahulu di serambi muka Gedung Induk yang ditopang beberapa pilar besar. Setelah itu rombongan dipecah menjadi dua kelempok agar lebih mudah diatur dan dapat menangkap penjelasan dari pemandu. Setiap kelompok dipandu oleh unit penyuluhan atau petugas pemandu istana.

Setelah itu, anda dapat memasuki Gedung Induk, yang terdiri dari delapan ruang, yaitu Ruang Garuda yang berfungsi sebagai Ruang Resepsi, disini juga pertemuan-pertemuan besar dapat dilaksanakan.

Ruang Teratai yang berfungsi sebagai ruang penerimaan tamu. Ruang Film pernah berfungsi sebagai ruang pemutaran film pada masa Presiden Soekarno. Ruang Makan yang berfungsi sebagai ruang makan utama. Ruang Kerja Presiden yang pernah berfungsi sebagai tempat bekerja Presiden Soekarno. Ruang Perpustakaan yang pernah berfungsi sebagai ruang perpustakaan Presiden Soekarno.

Ruang Famili dan Kamar Tidur yang berfungsi sebagai tempat ruang tunggu Presiden jika akan mengikuti aneka acara di Ruang Garuda. Ruang Tunggu Menteri yang berfungsi sebagai ruang tunggu para menteri jika mereka akan mengikuti acara - acara di Ruang Garuda.

Selanjutnya Gedung Utama Sayap Kiri, terdiri dari dua ruang, yaitu Ruang Panca Negara, yang pernah berfungsi sebagai ruang Konferensi Panca Negara/persiapan Konferensi Asia Afrika di Bandung, Ruang Tidur dan Ruang Tengah, yang difungsikan sebagai tempat menginap Presiden, tamu negara dan tamu agung.

Langsung menuju ke Gedung Utama Sayap Kanan, berfungsi sebagai tempat menginap para Presiden sebagai tamu negara berikut tamu - tamu negara, dan tamu - tamu lainnya. Paviliun Sayap Kiri berfungsi sebagai kantor Rumah Tangga Istana Bogor, sedangkan Paviliun Sayap Kanan berfungsi sebagai tempat menginap para pejabat dan staf tamu negara.
 
Kunjungan terakhir yang dapat anda lihat adalah Paviliun I-VI. kini digunakan sebagai tempat menginap para pejabat dan merupakan ruang tunggu para menteri apabila ada acara, Paviliun VI digunakan sebagai rumah jabatan kepala istal Di antara bangunan-bangunan lainnya, yang patut dicatat di sini adalah Gedung Dyah Bayurini, yang dilengkapi dengan kolam renang digunakan sebagai tempat istirahat Presiden serta keluarganya jika sedang berada di Bogor.

Selain itu, terdapat Gedung Serba Guna yang berfungsi sebagai ruang serba guna: kesenian, pertemuan, tempat artis, dsb. Selebihnya bangunan-bangunan itu merupakan bangunan-bangunan pelengkap kediaman Presiden dan fungsinya pun sejalan dengan jabaran tugas dan fungsi mereka.
Bekas Pesanggrahan

Pemerintah Indonesia mulai menggunakan Istana Bogor pada Januari 1950. Pada 1952 ada sedikit penambahan di bagian depan induk berupa emperan yang ditopang oleh sepuluh pilar bergaya Ionic, menyatu dengan serambi muka yang juga disanggah enam pilar bergaya serupa. Anak tangga yang semula setengah lingkaran berubah bentuk menjadi horizontal.

Karena kerap digunakan untuk acara-acara kenegaraan yang kerap didatangi tamu-tamu penting, maka sejak 1954 dibangun paviliun I sampai V seluas 2.363 m persegi yang letaknya terpisah dengan istana. Paviliun II pernah ditempati Soekarno dan Ibu Hartini. Tahun 1964 dibangun lagi sebuah paviliun seluas 500 m persegi yang juga terpisah dari istana dan diberi nama Diah Bayurini yang digunakan Soeharto berserta keluarga saat berada di Bogor.

Bangunan utama Istana Bogor adalah Gedung Induk yang di dalamnya terdapat Ruang Garuda, Teratai, Film, Perak, Kerja, Makan, Pantri dan beherapa ruang tidur serta ruang induk yang terdapat di sayap kanan maupun kiri. Selain itu terdapat bengunan pendukung herupa perkantoran, poliklinik, pergudangan, pos jaga, ruang serba guna, museum dan heberapa paviliun. Istana induk sayap kiri memiliki luas bangunan 325 m persegi. Bangunan ini kerap dipakai sebagai tempat menginap para menteri. Di dalamnya terdapat enam buah kamar tidur, satu ruang pertemuan dan satu ruang konferensi.

Sampai sekarang, Istana Bogor berfungsi sebagai kantor dan kediaman resmi Presiden. Beberapa peristiwa penting dan bersejarah pernah terjadi di istana ini antara lain Konferensi Panca (lima) Negara pada 28-29 Desember 1954 yang merupakan lanjutan di Colombo sebagai persiapan Konferensi Asia-Afrika di Bandung 1955, penandatanganan Surat Perintah 11 Maret 1966 yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia, lalu pembahasan masalah konflik Kamboja yang dikenal dengan JIM pada 25-30 Juli 1988 serta pertemuan APEC pada 15 November 1994.

Dahulu Istana Bogor hanya diperuntukkan sebagai tempat peristirahatan dan pesta para Gubernur Jenderal kemudian menjadi tempat acara kenegaraan dan penting lain bagi para petinggi negara termasuk presiden dan jajaran menteri, kini seiring masa keterbukaan, Istana pun terbuka untuk umum.

Masyarakat dapat berkunjung dan diperbolehkan melihat langsung beberapa ruangan di dalamnya. Namun untuk itu, masyarakat perlu mematuhi persayaratan yang berlaku. Meski pengunjung tidak bisa bermalam di Istana Bogor, rasanya cukup puas bisa mengambil gambar atau berpose bersama dengan latarbelakang istana sebagai tanda bukti kita sudah menginjakkan kaki di kantor sekaligus kediaman orang nomor satu di negeri ini. (diolah dari berbagai sumber)
(uky)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

Share Artikel : Facebook | Twitter

Dibaca 1.054 x  

Kirim Komentar

Berita Terkait: Indonesiaku
more...
Berita Lainnya:
more...
« Go Back
© 2007 - 2014 okezone.com, All Rights Reserved.
read/ rendering in 0.0997 seconds -i111-