okezone
Home » Travel » Indonesiaku
Menelisik Kepercayaan Parmalim di Tanah Batak (II)
Senin, 20 Februari 2012 - 12:30 wib
Risna Nur Rahayu - Okezone
detail Ritual Pameleon Bolon Sipaha Lima (Foto: Risna/okezone) enlarge this image

SERIBUAN penganut kepercayaan Parmalim telah berkumpul di Partonggoan Bale Pasogit (halaman rumah ibadah) di Desa Huta Tinggi Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba Samosir. Mereka bersiap melangsungkan ritual Parsahadatan yakni pelaporan masing-masing pimpinan cabang (Ulupunguan) Parmalim di setiap daerah.

Persahadatan merupakan rangkaian dari ritual Pamaleon Bolon Sipaha Lima. Sesuai namanya, Ritual Pamaleon Bolon Sipaha Lima ini jatuh pada bulan kelima menurut kalender Batak. Ritual ini merupakan wujud rasa syukur kepada Mulajadi Na Bolon atau Sang Pencipta atas berkah yang diberikan selama setahun.

Tepat pukul 14.00 WIB, lantunan Gondang Sabangunan membahana di desa tersebut. Penganut pria berpakaian rapi menggunakan sorban berwarna putih, menyelempangkan ulos, serta mengenakan kain sarung. Sementara, penganut wanita mengenakan kebaya, ulos, dan kain sarung. Seluruh peserta ritual tidak mengenakan alas kaki.

Bagi kepercayaan ini, sarung merupakan simbol kerapian. Bahkan, para penganut tak segan menegur tamu bukan penganut kepercayaan Parmalim yang tidak mengenakan sarung saat ritual. Bagi mereka, jika tidak mengenakan sarung sama artinya dengan tidak mengenakan pakaian.

Ritual Parsahadatan dipimpin langsung oleh Ihutan Bolon, pimpinan tertinggi kepercayaan Parmalim. Dengan bahasa Batak, lebih dari 40 Ulupunguan melaporkan kehadiran ras di daerahnya. Ras yang hadir tidak hanya dari Sumatera Utara, namun seluruh Indonesia.

Usai mendengarkan laporan, Ihutan Bolon memanjatkan doa kepada Sang Pencipta agar puncak acara Pameleon Bolon Sipaha Lima yang akan digelar keesokan harinya berjalan lancar. Doa inipun diiringi dengan tarian tor-tor.

Usai menggelar ritual Persahadatan, seluruh penganut bersiap-siap membuat altar untuk acara Pamaleon keesokan harinya. Altar ini akan dihiasi berbagai pernak-pernik, di antaranya janur dan mawar merah. Nantinya, altar akan dijadikan tempat sajian persembahan untuk Mulajadi Na Bolon.

Selain memersiapkan altar, acara pemotongan kerbau, kambing berwarna putih, ayam berwarna merah, putih, dan hitam juga akan disembelih dan dimasak. Inilah nantinya yang akan dipersembahkan kepada Mulajadi Na Bolon sebagai wujud rasa syukur atas berkah dan rezeki yang telah diberikan selama setahun.

Pukul 12.45 WIB keesokan harinya, seluruh penganut kembali berkumpul di Partonggoan Bale Pasogit. Hari ini merupakan puncak acara Pameleon Bolon Sipaha Lima. Seekor lembu jantan berwarna hitam, dengan empat pusara akan disembelih nantinya. Pakaian yang mereka kenakan juga masih sama seperti saat ritual Persahadatan sehari sebelumnya.

Tiga altar yang telah dihias janur dan tiga bendera berwarna merah, hitam dan putih kokoh di tengah-tengah Partonggoan, dikelilingi seribuan penganut. Alunan Gondang kembali bersenandung. Ihutan pun telah siap memimpin jalannya ritual puncak ini.

Bersama tujuh orang, Ihutan berdiri di depan altar. Pintu bangunan yang berhadapan dengan Bale Pasogitpun telah dibuka. Secara estafet, sejumlah sajian persembahan digilir dari tangan ke tangan hingga sampai ke Ihutan dan diletakkan ke altar.

Sajian persembahan yang diletakkan di pinggan (piring) ini terdiri dari daging kambing putih, ayam yang telah dimasak secara utuh, ikan lihan, dan sejumlah sajian lainnya. Lembu jantan hitam juga ditarik ke tengah-tengah Bale Pasogit oleh belasan pria. Tanduk lembu tersebut diberi hiasan dari janur serta ekornya diberi pita dari janur.

Sajian Persembahan ini diperuntukan kepada Mulajadi Na Bolon, Debata Natolu, Siborudeak Parujar, Raja Hotarusan, Nagapadahoni Raja, Boru Saniangnaga, Patuan Raja Uti, Tuhan Simarimbulabosi, Raja Naopatoluopat, Sisingamangaraja, dan Raja Nasiakbagi. Persembahan juga diiringi doa (tonggo). Masing-masing doa diringi dengan alunan gondang yang berbeda pula.

Tahun sebelumnya, tonggo yang dipanjatkan adalah meminta keselamatan dari malapetaka. Dan puncak tonggo tahun ini adalah meminta kemakmuran hidup, baik rezeki maupun jodoh bagi penganut yang belum menikah.

Pemanjatan tonggo lainnya juga dilakukan saat mengelilingi altar sebanyak tiga kali oleh puluhan orang penganut. Kini saatnya Ihutan memberikan Boras Sipirni Tondi (meletakkan sejumput beras di kepala), agar penganut ajaran ini tetap semangat menjalani kehidupannya. Usai memanjatkan tonggo, lembu jantan hitam kembali ditarik ke luar Partonggoan untuk disembelih.

Desa Huta Tinggi, tempat diselenggarakannya ritual Parsahadatan berjarak lebih kurang 250 kilometer dari Medan dan 30 kilometer dari Prapat. Sejumlah kendaraan umum, baik bus maupun taksi, dapat melintasi desa ini. (ftr)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

Share Artikel : Facebook | Twitter

Dibaca 754 x  

Kirim Komentar

Berita Terkait: Indonesiaku
more...
Berita Lainnya:
more...
« Go Back
© 2007 - 2014 okezone.com, All Rights Reserved.
read/ rendering in 0.1129 seconds -i111-