Jum'at, 28 November 2014 Sign In | Sign Up
Amandemen UUD 45 Hancurkan Pancasila, Slamet Nilai Hasyim Tak Bijaksana
Ilustrasi (Foto: Dok. Okezone)
PolhukamSenin, 10 September 2012 - 22:08 wib

Amandemen UUD 45 Hancurkan Pancasila, Slamet Nilai Hasyim Tak Bijaksana

Misbahol Munir - Okezone
JAKARTA - Pernyataan mantan Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi yang menyatakan bahwa empat kali amandemen UUD 1945 telah menghancurkan Pancasila, adalah ungkapan tidak bijaksana, ngawur, dan tidak berdasarkan pemahaman yang utuh mengenai makna perubahan konstitusi yang sesungguhnya.  
 
Hal itu disampaikan oleh mantan Wakil Ketua PAH I BP MPR 1999-2002, yang sekaligus menjadi Ketua PBNU, Slamet Effendy Yusuf dalam keterangan tertulisnya kepada Okezone, Senin (10/9/2012).
 
Menurut dia, PB Syuriah NU belum pernah membuat pernyataan semacam itu. Sehingga apa yang disampaikan Hasyim Muzadi merupakan pernyataan pribadinya.
“Saya ingin menegaskan, PB Syuriah NU setahu saya belum pernah membuat pendapat seperti itu. Jadi ini adalah pendapat pribadinya,” kata Slamet.
 
“Saya perlu menjelaskan ini, karena ungkapan amandemen UUD dilakukan tanpa konsep telah menghancurkan Pancasila, adalah ungkapan yang serius yang perlu diklarifikasi agar duduk soalnya menjadi jelas dan proporsional,” imbuhnya.
 
Perubahan UUD 1945 kata dia, merupakan tuntutan reformasi untuk mewujudkan adanya kehidupan berbangsa dan bernegara yang secara konstitusional demokratis, menjunjungtinggi hak asasi manusia, serta berorientasi pada tujuan kemerdekaan sebagai mana disebut dalam Pembukaan UUD 1945. Jadi adanya perubahan pada pasal-pasal yang ada justru untuk untuk memperkokoh Pancasila dalam pelaksanaannya.
 
“Saya tidak tahu apa yang dimaksudkan oleh Kiai Hasyim Muzadi sebagai amandemen batang tubuh yang menyentuh sendi-sendi operasonal justru menghacurkan Pancasila. Sangat mungkin karena Kiai Hasyim tidak mengetahui bedanya pengaturan oleh UUD dan UU. Hal-hal operasional itu diatur dalam UU, bukan dalam hukum dasar/UUD,” tegas Slamet.
 
Slamet menduga bahwa Hasyim telah terbawa arus gerakan yang ingin kembali UUD 1945 sebelum perubahan. “Padahal, seharusnya yang dilakukan adalah penyempurnaan atas amandemen dengan perubahan lagi bila diperlukan, bukan dengan cara mudah tapi salah arah, apalagi untuk kembali ke belakang,” kata pengasuh Pondok Pesantren Al Azhary, Ajibarang, Purwokerto.
(hol)
KIRIM KOMENTAR
Login untuk komentar
    BERITA TERKAIT
    FOTO LAINNYA
    VIDEO LAINNYA
    BACK TO TOP
    Available On
    x
    Kenali New Mobile Okezone