okezone
Home » Economy » Perbankan
Demo Warnai Peresmian Gedung BI di Solo
Jum'at, 5 Oktober 2012 - 19:07 wib
Bramantyo - Okezone
detail (Foto: Bramantyo/Okezone) enlarge this image

SOLO - Peresmian Gedung baru Bank Indonesia (BI) yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman, Solo, Jawa Tengah, yang dihadiri Gubenur BI Darmin Nasution diwarnai aksi demo sejumlah seniman.

Aksi diawali dari bundaran Gladak, jalan Slamet Riyadi. Selanjutnya dengan berjalan mundur para seniman ini menuju gedung BI. Setibanya di BI, para seniman dengan bertelanjang dada di bawah terik matahari langsung menggelar topo bisu. Hampir satu jam lamanya, para seniman ini topo bisu tanpa berbicara sedikit katapun.

Sementara di belakang para seniman, spanduk memprotes pembangunan gedung baru BI dikawasan cagar budaya terpasang. Koordinator Cagar Budaya Surakarta (Jaya Baya) Jawul Prabawoko mengatakan, sebagai bank sentral, BI telah melakukan perusakan kawasan situs cagar budaya yang telah dipatenkan di Kementerian Kebudayaan.

Apalagi, tepat di sepanjang kawasan Jenderal Sudirman, merupakan kawasan Keraton Kasunanan Surakarta yang berdiri bangunan cagar budaya, mulai dari Kantor Pos Besar, Gedung BI lama, Balai Kota, dan benteng Vastenburg.

"Pembangunan gedung baru BI ini melanggar Perda NO 8/2009 pasal 23 ayat 1 dan 4 tentang BANGUNAN serta UU no 11/2010 pasal 31 ayat 5 tentang cagar budaya," jelas koordinator aksi Jawul, di sela aksi topo bisu, di depan Gedung BI, Solo, Jawa Tengah, Jumat (5/10/2012).

Menurut Jawul, sebagai bank sentral, BI seharusnya memahami aturan pemerintah tentang perlindungan benda-benda cagar budaya yang didirikan untuk melindungi aset-aset peninggalan sejarah bangsa.

Para seniman, tambah Jawul, tidak mungkin meminta kepada BI untuk menghancurkan gedung BI yang dananya diambil dari keringat rakyat Indonesia. Namun, para seniman ini meminta agar BI bisa menyesuaikan bangunan yang didirikan dengan lingkungan cagar budaya yang ada di sekitar bangunan BI.

Tetapi, meskipun berulang kali para seniman ini menuntut agar pihak BI bisa menyesuaikan bangunan yang didirikan dengan lingkungan cagar budaya yang ada di sampingnya berulang kali diajukan, namun dari pihak BI tidak menggubrisnya.

"Kami tidak menuntut gedung BI ini dirobohkan. Kami hanya meminta agar pihak BI bisa menyesuaikan dengan bangunan cagar budaya yang ada di sekitarnya ini dengan menambah beberapa ornamen kuno disekitarnya. Apapun yang dilakukan BI tetap melanggar, dan bisa saja, gedung ini dihancurkan. Tapi kami tidak menuntut itu. Mudah bukan bagi BI untuk menambah ornamen kuno," jelasnya.

Sedangkan aksi jalan mundur dan topo bisu di bawah terik matahari ini mereka lakukan sebagai simbol matinya hati nurani penguasa terhadap cagar budaya yang harus dilindungi. Menurut Jawul, bila terus-menerus diindahkan, Solo sebagai salah satu kota yang menyepakati perlindungan benda cagar budaya internasional, patut dipertanyakan.

Diakhir aksi, para seniman ini berencana memberikan berkas acuan cagar bsudaya yang dilanggar BI. Namun, niat tersebut gagal,karena para seniman ini dilarang menemui Gubenur Bank Indonesia. (ade)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

Share Artikel : Facebook | Twitter

Dibaca 297 x  

Kirim Komentar

Berita Terkait: Bank Indonesia
more...
Berita Lainnya:
more...
« Go Back
© 2007 - 2014 okezone.com, All Rights Reserved.
read/ rendering in 0.0923 seconds -i189-