okezone
Home » News » Nusantara
Tradisi Mengarak Telur di Kampung Islam Kepaon
Kamis, 24 Januari 2013 - 20:05 wib
Rohmat - Okezone
detail Tradisi makan bersama di Denpasar (foto: Rohmat/Okezone) enlarge this image

DENPASAR - Setiap datangnya Maulid Nabi Muhammad pada 12 Rabiul Awal, warga Muslim di Kepaon, Denpasar, Bali, selalu bersuka cita. Mereka memperingati hari lahirnya Nabi dengan berbagai tradisi, seperti arak-arakan telur hias dan megibung atau makan bersama.

Sejak pagi, warga Kepaon sudah disibukkan dengan berbagai persiapan dalam menyemarakkan hari kelahiran Nabi Muhammad. Tua muda, membaur guna menghias gunungan telur yang ditancapkan di batang pisang dihiasi berbagai macam buah dan kertas warna warni.

Berbagai gunungan telur yang disebut dengan "Bale Suji" ini, selanjutnya diarak keliling kampung melewati jalanan dengan menggunakan kendaraan roda empat. Arak itu disertai dengan kesenian khas Islam setempat yang dikenal dengan tarian "rodat", lengkap dengan musik rebana dan nyanyian bertema religius.

KH Musthofa Al Amin, tokoh muslim setempat, mengatakan, tradisi itu dilakukan turun temurun berasal dari leluhur mereka. Itu dilakukan sebagai bentuk kecintaan umat terhadap junjungan Nabi Muhammad.

"Telur diarak keliling kampung dengan maksud, agar warga muslim senantiasa ingat dengan nilai-nilai Islam sebagaimana disimbolkan lewat telur," papar Musthofa kepada Okezone, Kamis (24/1/2013).

Seperti diketahui, telur itu berisikan lima lapisan yang menandakan rukun Islam ada lima. Lapisan pertama atau cangkang merupakan simbol ibadah haji. Lapisan pelindung berikutnya berwarna putih, merupakan rukun Islam kedua yakni berpuasa di Bulan Ramadan.

Bagian putih telur atau lapisan ketiga adalah zakat yang juga wajib ditunaikan umat Islam setelah melaksanakan puasa. Sedangkan isi telur yang berwarna kuning, merupakan lapisan keempat menjadi simbol kewajiban menunaikan ibadah salat lima waktu.

"Bagian terakhir atau kelima adalah dalam kuning telur ada dua titik yang nantinya menjadi ayam, merupakan simbol dua kalimah syahadat," papar dia.

Karena itulah, telur dipilih dalam tradisi ini karena mengandung nilai-nilai filosofi tinggi yang bersumber dari ajaran Islam.

Setelah, sekira 10 ribu telur diarak kemudian dibawa kembali ke Masjid untuk didoakan bersama, dengan harapan bisa membawa kebaikan dan keselamatan umat muslim. Kemudian telur itu dibagikan ke warga sekitar meski bukan beragam Islam. Tujuannya untuk memperat silaturahmi di Puri Pemecutan Denpasar tersebut.

Selanjutkan, para peserta perayaan berkumpul dan melangsungkan tradisi megibung atau makan bersama. Tradisi itu, lanjut Musthofa, diadopsi dari tradisi yang hampir sama dijalankan Umat Hindu disaat menggelar sebuah upacara.
   
"Ya semacam tradisi makan bersama, di mana satu nampan berisi nasi dan lauk pauk dan hasil bumi. Itu bentuk akulturasi budaya Hindu di kampung kami," kata Musthofa yang juga Ketua Majalis Ulama Indonesia (MUI) Kota Denpasar. (ris)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

Share Artikel : Facebook | Twitter

Dibaca 328 x  

Kirim Komentar

Berita Terkait: Maulid Nabi
more...
Berita Lainnya:
more...
« Go Back
© 2007 - 2014 okezone.com, All Rights Reserved.
read/ rendering in 0.0838 seconds -i189-